Sabtu, 26 April 2014

Sejarah Alkhidmah (Majelis Dzikir)

 
 
 
 
       Jauh sebelum Jama’ah Al Khidmah secara resmi berdiri pada tanggal 25 Desember 2005 di Semarang[2], sejatinya perkumpulan ini sudah eksis sejak tahun 1987. Saat itu jumlah anggota baru belasan orang dan daerah cakupan masih berada di sekitar Gresik. Orang sering sebut perkumpulan itu geng “orong-orong”.[3] Nyaris, tak ada orang yang mau melirik perkumpulan tersebut.
Tetapi kini, saking banyaknya, jumlah Jama’ah Al Khidmah telah mencapai ribuan bahkan jutaan orang dan tersebar tak hanya di Indonesia tetapi juga di Singapura, Malaysia, Thailand, Yaman, Makkah, Madinah, Australia, dan Brunei Darussalam. Tak hanya diselenggarakan oleh masyarakat umum dan pondok pesantren, tetapi juga digelar oleh instansi pemerintah, rumah sakit, lembaga ilmiah seperti LIPI, sekolah menengah dan universitas.
Tokoh dibalik semakin membludaknya Jama’ah Al Khidmah itu bukan lain adalah Hadratussyaikh Romo KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy RA. Beliau adalah tokoh kunci dan pendiri Jama’ah Al Khidmah, yang dalam satu kesempatan pernah menuturkan satu harapan dan doa agar Jama’ah Al Khidmah ke depan dapat menjadi “oase dunia”.
Jama’ah Al Khidmah, seperti tertera dalam visinya, bermimpi “mewujudkan generasi yang sholeh dan sholehah, sejahtera lahir dan batin, yang pandai bersyukur, dapat menyenangkan hati keluarganya, orangtuanya, guru-gurunya hingga Nabi Besar Muhammad SAW, sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan hadist serta tuntunan akhlaq para salfunassholeh (orang-orang dahulu yang sholeh)”.[4]
Bertumpu pada konteks itulah keberadaan Al Khidmah Kampus dengan demikian dianggap pas, kalau bukan mendesak. Al Khidmah Kampus dianggap penting paling tidak untuk dua hal: pertama, sebagai wadah generasi muda Al Khidmah di univesitas dan sekolah; kedua, sebagai medium pengkaderan dan regenerasi Al Khidmah. Maka dari itulah pada naskah ini akan dikemukakan—sejauh pengetahuan penulis—tentang sejarah dan pergulatan pengembangan Al Khidmah Kampus di Yogyakarta yang baru berjalan satu tahun terakhir.
Awal Mula
Pada tahun 1999, Hadratussyaikh Romo KH. Achmad Asrori Al-Ishaqy RA kali pertama rawuh ke Pondok Pesantren Hidayatul Falaah Bejen Bantul. Pondok itu diasuh oleh Romo KH. Achmad Burhani Asyahidi. Sejak saat itulah bibit Al Khidmah muda tersemai di Jogjakarta. Kemudian pada tahun 2004, terselenggara Haul Akbar pertama di Masjid Agung Kabupaten Bantul, yang dihadiri pula oleh Hadratusyaikh RA.[5]
Empat tahun kemudian, tepatnya tanggal 18 Maret 2008 M/10 Maulud 1429 H, Romo KH. Najib Zamzami bersama rombongan santri PP Al Ishlahiyyah Kemayan Kediri rawuh di Maguwoharjo, Sleman, dalam rangkaian acara Haul Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al-Jilany RA. Sepengetuhan penulis, itu adalah acara manaqib pertama Al Khidmah di daerah Sleman. Romo KH. Najib berkenan rawuh ke Maguwo atas permintaan KH. Roikhan Zainal ‘Arifin dan santri-santrinya, antara lain, H. Saring Artanto, Agus Setiawan, dan Suwardiyo.
Pada tanggal 4-5 Juli 2008, sekumpulan perantau dan pengusaha di Kota Jogjakarta yang berasal dari Gunung Kidul, disepuhi oleh H. Saring Artanto dan Agus Setiyawan, sowan ke dalem Romo KH. Najib Zamzami Kediri.[6] Pisowanan itu dalam rangka memperteguh komitmen untuk “nderek” kepada Hadratussyaikh RA. Maka, atas nasihat dari Romo KH. Najib, mereka diarahkan untuk “merapat” ke Romo KH. Achmad Burhani, imam khususi daerah Jogjakarta yang ditunjuk langsung oleh Hadratussyaikh RA[7]. Kemudian pada tanggal 13 Juli 2008, Romo KH. Achmad Burhani mengajak mereka sowan ke dalem Hadrotussyaikh RA di Pondok Pesantren Kedinding, yang kala itu bertepatan dengan Pengajian Minggu Kedua. Namun, sayangnya, karena kondisi kesehatan Hadrotussyaikh RA yang saat itu sudah tidak memungkinkan, Beliau RA tidak mengisi pengajian, dan sowan dilakukan pada saat majlis-majlis berikutnya.
Hingga Mei 2009, di daerah Kota Jogjakarta terdapat kurang lebih 30 Jama’ah. Tetapi belum terbentuk kepengurusan secara resmi. Kemudian atas inisiatif dari Ketua Al Khidmah Wilayah Jateng-DIY, H. Joko Suyono, meminta agar segera dibentuk kepengurusan terutama di daerah Kota Jogjakarta. Saat itu H. Saring Artanto dan Agus Setiawan intensif bermusyawarah dengan Muhsin Kalida, MA., dosen UIN Sunan Kalijaga, soal proses pendirian kepengurusan di Kota Jogjakarta. Akhirnya pada tanggal 18 April 2009, diselenggarakan Majlis Rutin Sabtu Malam Ahad Pahing perdana di Padepokan Cakruk Pintar, Nologaten, Depok, Sleman. Saat itu dihadiri oleh Romo KH. Achmad Burhani, Romo KH. Sirojan Muniro (PP Nurul Haromain Sentolo Kulonprogo), H. Joko Suyono, KH. Muhyi Darmaji, Jama’ah Al Khidmah Bantul, Jama’ah Al Khidmah Kota, warga dan tokoh masyarakat sekitar Nologaten, santri PP. Wahid Hasyim Gaten, dan santri PP Universitas Islam Indonesia.
Majlis Nologaten yang pertama itu boleh dikatakan sebagai launching Pengurus Al Khidmah Daerah Kota Jogjakarta dan Sleman.[8] Saat itu menjabat sebagai Ketua pertama adalah Agus Setiawan, lalu pada tahun 2010, diganti oleh Suwardiyo. Selain Majlis di Nologaten, atas inisiatif dari Ustadz Fathurrozi[9], di Kota sebelumnya sudah dirintis pula Majlis Rutin Malam Jumat. Sementara di Bantul sendiri, jauh sebelumnya, sudah rutin Majlis Manaqib setiap Ahad Pon dan Majlis Iklil setiap Sabtu Legi. Begitu kemudian menyusul, atas kerja keras Romo KH. Sirojan, terbentuklah pula kepengurusan dan majlis Al Khidmah di Kulonprogo dan Gunungkidul yang diketuai oleh Slamet Gento.
Kemudian pada tanggal 8 Mei 2010, Ketua Umum Pimpinan Pusat Al Khidmah, H. Hasanuddin, S.H., rawuh ke Majlis Rutin Sabtu Malam Ahad Pahing. Kehadiran beliau tentu dalam rangka memperkuat komitmen kepengurusan yang sudah terbentuk di seluruh wilayah DIY, betapapun masih sangat muda. Hal itu ditunjukkan dengan, salah satunya, diselenggarakan Musyawarah Nasional PP Al Khidmah di UIN Sunan Kalijaga, 2-4 April 2010, kemudian ditutup dengan Majlis Dzikir dan Maulidurrasul SAW di Masjid Gede Kauman, Jogjakarta, yang dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Al Khidmah Kampus
Sejak Al Khidmah Kampus Semarang dilaunching pada 3 November 2010[10], lahirlah semacam kesadaran kolektif dari kalangan muda Al Khidmah di daerah-daerah dan kota-kota besar untuk mendirikan Al Khidmah Kampus di universitas masing-masing. Sebagai perintis awal, di Semarang adalah Deeda Anwar, di Surabaya ada Robith Al Hamdany dan Fitrah Fotografi, di Jakarta ada Aris Adi Leksono, di Jogjakarta ada Andi Asmara dan Hilal Ahmed, serta beberapa mahasiswa di Malang, Ponorogo, Lamongan, Gresik, dan kota-kota lain.
Pada 20 November 2010, Andi mengundang mahasiswa dari berbagai kampus untuk mengadakan Majlis Iklil di Monjali. Selepas majlisan diadakan rapat konsolidasi dan pembentukan “embrio” pengurus Al Khidmah Kampus Jogjakarta. Rapat itu dalam rangka menyambut dibentuknya Al Khidmah Kampus Semarang. Selain penulis, hadir saat itu Yusuf (UIN Sunan Kalijaga), Hilal Ahmad (UGM), Mulyadi (UNY), beberapa mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang nyantri di PP Wahid Hasyim[11], beberapa mahasiswa UGM yang tinggal di rumah kontrakan Andi[12], dan Larit Satriyani S. Putri (putri H. Joko Suyono, mahasiswa UGM).
Rapat itu berhasil membentuk kepengurusan sementara. Penulis kebetulan diberi amanat untuk menjadi Ketua Al Khidmah Kampus Jogjakarta dan Hilal Ahmed sebagai Sekretaris. Tetapi setelah kepengurusan terbentuk tidak lantas kemudian proses konsolidasi mahasiswa di kampus-kampus berjalan dengan lancar. Betapapun banyak mahasiswa yang kenal dan paham tentang Al Khidmah (bahkan aktif di daerahnya masing-masing), perlu diketahui bahwa butuh proses yang cukup panjang untuk mencari kader unggul, baru, dan segar di kampus-kampus. Saat itu harus disadari bahwa Al Khidmah Kampus sedang mencari bentuk serta pendekatan yang pas dan tepat terutama dalam konteks keberlangsungannya di Jogjakarta, yang kondisi sosio-kulturalnya jauh berbeda dengan Semarang, Surabaya, Malang, dan daerah-daerah lain.
Akhir Mei 2011, penulis bermusyawarah kecil-kecilan dengan Alfian Haris dan Abdul Basith di rumah H. Saring. Kita sepakat untuk membuka majlis perdana Al Khidmah Kampus di Masjid UIN Sunan Kalijaga. Dengan tetap berkoordinasi dengan Andi, Hilal, dan Yusuf (PP Wahid Hasyim), maka tanggal 31 Mei 2011, Alfian Haris dan Basith melayangkan surat permohonan untuk menyelenggarakan Majlis Iklil ke Takmir Masjid UIN Sunan Kalijaga. Selain Muhsin Kalida, MA, adalah Baihaqi Latif dan Rosyid, dua pemuda yang berjasa memperlancar ijin kami di ketakmiran. Rosyid yang kebetulan adalah kawan Baihaqi dan anggota pengurus Takmir Masjid UIN Sunan Kalijaga memberi pemahaman kepada Ketua Takmir, Dr. Waryono Abdul Ghofur, tentang apa dan bagaimana Jama’ah Al Khidmah. Begitu pula dengan Muhsin Kalida yang bukan lain adalah kolega dari Dr. Waryono.
Semata-mata atas ijin Allah SWT, Takmir Masjid UIN Sunan Kalijaga tertanggal 01 Juni 2011 mengeluarkan surat bernomor 48/B/Lab Agama SK/VI/2011, berisi pemberian ijin penyelenggaran Majlis di Masjid UIN dan, yang membuat kami saat itu sangat bersyukur, memberi penekanan: “bahwa kegiatan yang dimaksud dalam surat tersebut agar dijadikan bagian dari kegiatan Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga”.[13]
Surat balasan itu sekali lagi sungguh membuat kami saat itu sangat bersyukur karena asumsi bahwa Al Khidmah Kampus tidak akan diterima oleh warga kampus di Jogjakarta menjadi terbantahkan. Dengan semangat juang yang tinggi, akhirnya pada tanggal 7 Juni 2011, tergelarlah Majlis Rutin Selasa Sore[14] perdana Al Khidmah Kampus di UIN Sunan Kalijaga yang diikuti oleh kurang lebih 45 mahasiswa. Bermula dari Majlis ini, salah satu mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia, Misbakhul Huda, berinisiatif menggelar Majlis serupa setiap hari Senin di kampusnya yang dimulai pada tanggal 20 Juni 2011. Kemudian agak belakangan, atas kerja keras Hamid dan Diyah Kholil dan Hilal Ahmed dan Larit, pada tanggal 19 November 2011, terselanggaralah Majlis Rutin Sabtu Sore (dwimungguan) di Mushola Ibnu Sina Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Bermula dari pelbagai majlis itu pulalah kemudian muncul kader-kader baru dari berbagai universitas di Jogjakarta. Misalnya, di UIN Sunan Kalijaga—selain Alfian Haris dan Abdul Basith—ada Amir Yusuf dan Abdullah Wasik; di UNY ada Taufiq dan Farida; di UII ada Nur Haris ‘Ali, Denes, Alfi Rahmawati, Wisnu, Rijal Bahtiar; di UGM—selain tentu saja Hilal Ahmed dan Larit Satriyani S. Putri—ada Diyah Kholil dan Hamid.[15]
Tentu tak hanya mereka (dan teman-teman mereka yang tak bisa saya sebut semua di sini) yang berperan penting dalam masa perintisan awal Al Khidmah Kampus di Jogjakarta. Mereka yang menjadi staf di kampus-kampus tersebut dengan kelegaan hati dan kesabaran perjuangan juga membantu mengembangkan Al Khidmah Kampus. Sebut saja misalnya Ali Ubaidillah (UII), Bunda Umi (UGM), Muhammad Zakiy Muntazhar (UGM), dan teman-teman Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) UGM. Sementara di luar kampus, nama yang paling patut disebut di sini adalah Romo KH. Achmad Burhani, Deeda Anwar, H. Saring, dan seluruh elemen yang berada di bawah tenda besar Al Khidmah baik di Jogjakarta dan Jawa Tengah, baik dari daerah maupun pusat.
Untuk mewadahi agar semangat yang tangguh itu terus berkibar dan tak lekas pudar, maka pada tanggal 22 Agustus 2011 H/22 Ramadlan 1423 H, dibentuklah kepengurusan Al Khidmah Kampus Wilayah D.I. Yogyakarta yang baru dan reshuffle kepengurusan tingkat universitas se-DIY di Universitas Islam Indonesia. Misbakhul Huda mendapat amanat sebagai Ketua Al Khidmah Kampus Wilayah DI Yogyakarta. Nur Haris ‘Ali, menggantikan Huda, mendapat amanat sebagai Ketua Al Khidmah Kampus UII. Amir Yusuf mendapat amanat sebagai Ketua Al Khidmah Kampus UIN Sunan Kalijaga, menggantikan Alfian Haris yang mendapat amanat sebagai Sekretaris Al Khidmah Kampus DIY. Taufiq mendapat amanat sebagai Ketua Al Khidmah Kampus UNY. Sementara di UGM, masih dipegang secara kolektif oleh Hilal Ahmed, Hamid, Diyah Kholil, dan Larit.
Seolah seperti menyambut semangat kolektif tersebut, para kader-kader baru dengan kesungguhan—yang tak bisa saya bayangkan: sangat tangguh dan luar biasa—bekerja keras untuk kemajuan Al Khidmah Kampus di Jogjakarta. Dan Malam Keakraban pada dua hari ini adalah salah satu dari jerih payah mereka.
Agenda Ke Depan
Pertanyaannya kemudian: ke mana langkah Al Khidmah Kampus Jogjakarta ke depan? Pertanyaan lain yang tak kurang pentingnya: untuk (si)apa Al Khidmah Kampus ini?
Pertanyaan itu dapat dijawab dengan dua perspektif: normatif-visioner dan realistis-organisatoris.
Secara normatif-visioner Al Khidmah Kampus, seperti dikemukakan di awal tulisan ini, mengemban visi yang tulus: “mewujudkan generasi yang sholeh dan sholehah, sejahtera lahir dan batin, yang pandai bersyukur, dapat menyenangkan hati keluarganya, orangtuanya, guru-gurunya hingga Nabi Besar Muhammad SAW, sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan hadist serta tuntunan akhlaq para salfunassholeh (orang-orang dahulu yang sholeh)”. [16]
Al Khidmah Kampus perlu kita kembangkan bukan untuk siapa-siapa, kecuali untuk kita dan akan kembali kepada kita dan generasi setelah kita. Maka kita tentu perlu melakukan “pembumian” ke dalam kegiatan yang lebih praktis dan “persepsibel” agar visi itu tidak sekadar menjadi satu visi yang kosong. Dan pekerjaan ini akan kita garap saat Rapat Kerja Al Khidmah Kampus DIY, besuk tanggal 25 Desember 2011 di Joglo Abang, Sleman.
Tetapi cukuplah semangat yang perlu terus kita perbaharui saat ini adalah, bahwa perjuangan kita di Al Khidmah Kampus bukan lain bertujuan untuk membahagiakan hati orangtua dan guru kita terutama Hadratussyaikh Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqy RA. Kita tentunya ingat, dengan kasih sayangnya yang agung, Hadratussyaikh RA tetap bersemangat membimbing, mengarahkan, dan mendoakan kita agar kita menjadi pribadi yang senantiasa berdzikir, berfikir, dan beramal sholeh. Kita pun diajari oleh Beliau RA bagaimana cara menghormati dan membahagiakan hati guru, orang tua, dosen, keluarga, pahlawan, para pendahulu yang sholeh, hingga Nabi Besar Muhammad SAW. Yang tak kalah penting, di tengah jaman akhir yang “edan” dan centang-perenang seperti saat ini, kita oleh Beliau RA dijari untuk selalu pandai bersyukur atas nikmat yang hadir dalam diri kita dan dituntun bagaimana menjalani hidup dan kehidupan sesuai tuntunan dan bimbingan guru-guru yang sholeh dan akhlak Rasulillah SAW.
Selanjutnya, secara realistis-organisatoris, keberadaan Al Khidmah Kampus dianggap sangat perlu dan strategis sebagai—meminjam istilah H. Hasanuddin, S.H.—“tulang punggung” pengkaderan Al Khidmah di masa depan. Satu kejahatan yang diorganisir dengan baik saja dapat menghasilkan kualitas kejahatan yang baik, apalagi satu kebaikan, tentu jika diorganisir dengan baik maka akan menghasilkan satu kebaikan yang berlipat ganda baiknya.
Satu hal yang patut disadari adalah, bahwa strategi pengembangan yang ditawarkan dalam pengembangan Al Khidmah Kampus sebaiknya sedikit berbeda dengan pengembangan umumnya Al Khidmah. Al Khidmah Kampus mesti beradaptasi dengan psiko-sosio-kultural mahasiswa di masing-masing universitas. Kita harus membaca realitas bahwa mahasiswa berada di kampus hanya kurang lebih 4 tahun. Maka kita perlu berpikir bagaimana supaya dalam masa 4 tahun itu, mahasiswa dapat secara efektif terlibat dalam kegiatan pengembangan Al Khidmah, tetapi tanpa meneledorkan kewajiban utama mereka yakni belajar dan berprestasi.
Kita harus sadar bahwa setiap kampus, sebagaimana satu daerah, memiliki kondisi yang berbeda-beda. Pengalaman mengembangkan Al Khidmah Kampus di UII, misalnya, sangatlah berbeda dengan pengembangan Al Khidmah Kampus di UIN, UGM, atau UAD. Begitu pula pengalaman mengembangkan Al Khidmah Kampus di daerah Semarang sangatlah berbeda dengan pengembangan Al Khidmah Kampus di daerah Surabaya, Ponorogo, Papua, Jogjakarta, atau Jakarta. Dengan demikian pendekatan yang perlu dilakukan terhadap masing-masing kampus mesti berbeda-beda. Hal ini agar pendekatan dan strategi pengembangan yang dilakukan oleh Al Khidmah Kampus tidak lekas putus di tengah jalan sebelum cita-cita Hadratussyaikh RA—agar Al Khidmah dapat menjadi “oase dunia”—terwujud.
Walhasil, selamat atas terselenggaranya “Malam Keakraban I dan Launching Al Khidmah Kampus Wilayah D.I. Jogjakarta”. Mudah-mudahan lahir generasi muda baru yang tangguh, sholeh, dewasa, dan istiqomah. Mudah-mudahan Allah SubhanHu wa Ta’alaa memberi kekuatan lahir dan batin kepada kita dalam mengemban amanat yang mulia ini.
Banyumas, 22 Desember 2011 [bertepatan dengan Hari Ibu Indonesia]
--------------------------
[1] Disampaikan dalam “Malam Keakraban (Makrab) I dan Launching Al Khidmah Kampus D.I. Yogyakarta”, 24-25 Desember 2011, di Joglo Abang, Sleman, Yogyakarta.
[2] Selain Hadratusyyaikh Romo KH. Achmad Asrori Al Ishaqy, tokoh pendiri lain adalah H. Muhammad Nuh (Menteri Pendidikan RI; saat itu beliau masih menjabat sebagai Rektor ITS), H. Muntiyarso, dan H. Hasanuddin, S.H. Lihat KH. Achmad Asrori Al Ishaqy, 2005, Tuntunan dan Bimbingan, Penerbit Jama’ah Al Khidmah, Semarang.
[3] Keterangan ini penulis peroleh dari Pidato Sambutan Ketua Umum PP Al Khidmah, H. Hasanuddin, S.H., dalam Haul Akbar Kabupaten Gresik, 18 Desember 2011, di sepanjang Jalan Veteran, Gresik.
[4] Lihat di situs resmi Jama’ah Al Khidmah, [http://al-khidmah.org/index1.php?kode=16], last updated 21 Desember 2011, accessed 21 Desember 2011
[5] Lihat situs Jama’ah Al Khidmah Bantul, [http://Jama’ahal-khidmahbantul.blogspot.com/p/profil_06.html], updated 21 Desember 2011, accessed 21 Desember 2011. Keterangan tahun saya peroleh dari Mazdan, santri Pondok Bejen Bantul yang kerap menjadi jurnalis dalam pelbagai kegiatan Al Khidmah di Bantul.
[6] Saya lupa berapa jumlah orang yang ikut ke Kediri. Seingat saya ada dua mobil termasuk anak-anak dan pemuda Rembang, yang masih keponakan KH. Musthofa Bisri, yakni Muhammad Baihaqi Latif. Sejak tahun 2007, Baihaqi bersama saya tinggal di rumah H. Saring Artanto
[7] Sebelumnya memang antara komunitas perantau dan pengusaha dengan KH. Achmad Burhani belum saling mengenal.
[8] Secara definitif (bahkan sampai sekarang) di Sleman belum terbentuk kepengurusan Al Khidmah. Karena masih baru, atas kebijakan H. Joko Suyono, Jama’ah Al Khidmah Sleman digabung dengan kepungurusan Jama’ah Al Khidmah Kota Jogjakarta.
[9] Beliau adalah ustadz dari PP Al Fithrah Kedinding Surabaya, yang secara kebetulan mendapatkan beasiswa dari Depag RI untuk menempuh S1 Bidang Hukum Islam ekstensi selama 2 tahun, 2008-2010, di UIN Sunan Kalijaga.
[10] Data ini saya peroleh dari tanggal upload foto Launching Al Khidmah Kampus Semarang dari facebook Deeda Anwar. Saya tekankan bahwa data ini belum valid (?). Al Khidmah Kampus Semarang terdiri dari Universitas Islam Sultan Agung (Unisulla), Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), IAIN Walisongo, IKIP PGRI, Udinus, dan Universitas Wahid Hasyim.
[11] Saya lupa siapa saja mereka. Tetapi pada prinsipnya mereka adalah para santri yang juga mahasiswa, yang selama ini mendukung Majlis Al Khidmah di Nologaten.
[12] Saya juga lupa siapa saja mereka. Seingat saya sebagian adalah mahasiswa UGM, antara lain, Majid, Witri, dan entah sekali lagi saya lupa.
[13] Lihat Surat Jawaban dari Takmir Masjid UIN Sunan Kalijaga untuk Al Khidmah Kampus UIN Sunan Kalijaga tertanggal 01 Juni 2011, dengan nomor surat 48/B/Lab Agama SK/VI/2011.
[14] Karena ada pembaharuan kebijakan, selepas Lebaran Idul Fitri 2011, Majlis Rutin Selasa Sore dipindah menjadi Majlis Rutin Jumat Sore.
[15] Tentu masih banyak nama-nama baru yang tak bisa saya sebut semua di sini. Tetapi yang jelas, mereka yang saya sebut di sini adalah kader Al Khidmah Kampus generasi awal.
[16] Lihat di situs resmi Jama’ah Al Khidmah, [http://al-khidmah.org/index1.php?kode=16], last updated 21 Desember 2011, accessed 21 Desember

Jumat, 25 April 2014

PROSES PEMBENTUKAN MINYAK BUMI





Minyak bumi terbentuk dari penguraian senyawa-senyawa organik dari jasad mikroorganisme jutaan tahun yang lalu di dasar laut atau di darat. Sisa-sisa tumbuhan dan hewan tersebut tertimbun oleh endapan pasir, lumpur, dan zat-zat lain selama jutaan tahun dan mendapat tekanan serta panas bumi secara alami. Bersamaan dengan proses tersebut, bakteri pengurai merombak senyawa-senyawa kompleks dalam jasad organik menjadi senyawa-senyawa hidrokarbon. Proses penguraian ini berlangsung sangat lamban sehingga untuk membentuk minyak bumi dibutuhkan waktu yang sangat lama. Itulah sebabnya minyak bumi termasuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, sehingga dibutuhkan kebijaksanaan dalam eksplorasi dan pemakaiannya.
Hasil peruraian yang berbentuk cair akan menjadi minyak bumi dan yang berwujud gas menjadi gas alam. Untuk mendapatkan minyak bumi ini dapat dilakukan dengan pengeboran. Beberapa bagian jasad renik mengandung minyak dan lilin. Minyak dan lilin ini dapat bertahan lama di dalam perut bumi. Bagian-bagian tersebut akan membentuk bintik-bintik, warnanya pun berubah menjadi cokelat tua. Bintink-bintik itu akan tersimpan di dalam lumpur dan mengeras karena terkena tekanan bumi. Lumpur tersebut berubah menjadi batuan dan terkubur semakin dalam di dalam perut bumi. Tekanan dan panas bumi secara alami akan mengenai batuan lumpur sehingga mengakibatkan batuan lumpur menjadi panas dan bintin-bintik di dalam batuan mulai mengeluarkan minyak kental yang pekat. Semakin dalam batuan terkabur di perut bumi, minyak yang dihasilkan akan semakin banyak. Pada saat batuan lumpur mendidih, minyak yang dikeluarkan berupa minyak cair yang bersifat encer, dan saat suhunya sangat tinggi akan dihasilkan gas alam. Gas alam ini sebagian besar berupa metana.
Sementara itu, saat lempeng kulit bumi bergerak, minyak yang terbentuk di berbagai tempat akan bergerak. Minyak bumi yang terbentuk akan terkumpul dalam pori-pori batu pasir atau batu kapur. Oleh karena adanya gaya kapiler dan tekanan di perut bumi lebih besar dibandingkan dengan tekanan di permukaan bumi, minyak bumi akan bergerak ke atas. Apabila gerak ke atas minyak bumi ini terhalang oleh batuan yang kedap cairan atau batuan tidak berpori, minyak akan terperangkap dalam batuan tersebut. Oleh karena itu, minyak bumi juga disebut petroleum. Petroleum berasal dari bahasa Latin, petrus artinya batu dan oleum yang artinya minyak.
Daerah di dalam lapisan tanah yang kedap air tempat terkumpulnya minyak bumi disebut cekungan atau antiklinal. Lapisan paling bawah dari cekungan ini berupa air tawar atau air asin, sedangkan lapisan di atasnya berupa minyak bumi bercampur gas alam. Gas alam berada di lapisan atas minyak bumi karena massa jenisnya lebih ringan daripada massa jenis minyak bumi. Apabila akumulasi minyak bumi di suatu cekungan cukup banyak dan secara komersial menguntungkan, minyak bumi tersebut diambil dengan cara pengeboran. Minyak bumi diambil dari sumur minyak yang ada di pertambangan-pertambangan minyak. Lokasi-lokasi sumur-sumur minyak diperoleh setelah melalui proses studi geologi analisis sedimen karakter dan struktur sumber.
Berikut adalah langkah-langkah proses pembentukan minyak bumi beserta gamar ilustrasi:
1. Ganggang hidup di danau tawar (juga di laut). Mengumpulkan energi dari matahari dengan fotosintesis.
proses pembentukan minyak bumi 1
2. Setelah ganggang-ganggang ini mati, maka akan terendapkan di dasar cekungan sedimen dan membentuk batuan induk (source rock). Batuan induk adalah batuan yang mengandung karbon (High Total Organic Carbon). Batuan ini bisa batuan hasil pengendapan di danau, di delta, maupun di dasar laut. Proses pembentukan karbon dari ganggang menjadi batuan induk ini sangat spesifik. Itulah sebabnya tidak semua cekungan sedimen akan mengandung minyak atau gas bumi. Jika karbon ini teroksidasi maka akan terurai dan bahkan menjadi rantai karbon yang tidak mungkin dimasak.
proses pembentukan minyak bumi 2
3. Batuan induk akan terkubur di bawah batuan-batuan lainnya yang berlangsung selama jutaan tahun. Proses pengendapan ini berlangsung terus menerus. Salah satu batuan yang menimbun batuan induk adalah batuan reservoir atau batuan sarang. Batuan sarang adalah batu pasir, batu gamping, atau batuan vulkanik yang tertimbun dan terdapat ruang berpori-pori di dalamnya. Jika daerah ini terus tenggelam dan terus ditumpuki oleh batuan-batuan lain di atasnya, maka batuan yang mengandung karbon ini akan terpanaskan. Semakin kedalam atau masuk amblas ke bumi, maka suhunya akan bertambah. Minyak terbentuk pada suhu antara 50 sampai 180 derajat Celsius. Tetapi puncak atau kematangan terbagus akan tercapai bila suhunya mencapat 100 derajat Celsius. Ketika suhu terus bertambah karena cekungan itu semakin turun dalam yang juga diikuti penambahan batuan penimbun, maka suhu tinggi ini akan memasak karbon yang ada menjadi gas.
proses pembentukan minyak bumi 34. Karbon terkena panas dan bereaksi dengan hidrogen membentuk hidrokarbon. Minyak yang dihasilkan oleh batuan induk yang telah matang ini berupa minyak mentah. Walaupun berupa cairan, ciri fisik minyak bumi mentah berbeda dengan air. Salah satunya yang terpenting adalah berat jenis dan kekentalan. Kekentalan minyak bumi mentah lebih tinggi dari air, namun berat jenis minyak bumi mentah lebih kecil dari air. Minyak bumi yang memiliki berat jenis lebih rendah dari air cenderung akan pergi ke atas. Ketika minyak tertahan oleh sebuah bentuk batuan yang menyerupai mangkok terbalik, maka minyak ini akan tertangkap dan siap ditambang.
proses pembentukan minyak bumi 4

TEKNOLOGI PANGAN
Apa dan Kemana Arahnya?

canned food 













Lulus dari Teknologi Pangan membuat makanan apa? Apa perlu teknologi canggih? Makanan seperti apa yang dibuat dengan bantuan ilmu ini? Banyak yang masih penasaran dengan jurusan yang satu ini. Maklum, tidak banyak perguruan tinggi di Indonesia yang membuka jurusan ini.

Di luar negeri jurusan ini bernama Food Technology atau sering disebut Food Tech. Artikel ini akan  memberikan gambaran singkat tentang Teknologi Pangan dan bagaimana prospek karirnya di masa depan.

Apakah Teknologi Pangan itu?

Teknologi pangan adalah aplikasi dari ilmu pangan untuk sortasi, pengawetan, pemrosesan, pengemasan, distribusi, hingga penggunaan bahan pangan yang aman dan bernutrisi. Dalam teknologi pangan, dipelajari sifat fisis, mikrobiologis, dan kimia dari bahan pangan dan proses yang mengolah bahan pangan tersebut. Spesialisasinya beragam, diantaranya pemrosesan, pengawetan, pengemasan, penyimpanan dan sebagainya. (wikipedia)

Latar belakang sejarah

Dulu sebelum jurusan ini ada, Nicolas Appert telah menemukan cara untuk memproses makanan dalam kaleng. Saat itu metode yang digunakan belum berlandaskan teknologi.
Di tahap selanjutnya muncul Louis Pasteur. Melalui risetnya untuk mencegah kerusakan fermentasi anggur akibat mikroba, ia mulai meletakkan dasar-dasar teknologi pangan.
Melalui penemuannya akan proses yang kemudian dinamai pasteurisasi, Pasteur berhasil membunuh mikroba pada susu melalui pemanasan tanpa banyak merubah sifat susu.
Sejak itu lahirlah beberapa macam metode pengolahan makanan yang semakin memperkaya teknologi pangan. Beberapa metode itu antara lain:
Pemadatan bahan makanan tertentu yang bisa diolah menjadi minuman hanya dengan diseduh seperti misalnya pada produk susu bubuk. Dengan demikian susu jadi mudah dikemas dan dikirim. Ini awal dari industri susu formula.
Kini telah banyak sekali temuan yang menjadi lingkup studi jurusan ini.
canned food

Apa yang dipelajari?

Beberapa mata kuliah penting di jurusan ini antara lain:- Kimia dan Biokimia Pangan,
- Rekayasa Proses Pangan,
- Mikrobiologi dan Keamanan Pangan,
- Pangan dan Gizi,
- Manajemen Industri Pangan,
- Pengemasan Pangan,
- Pengeringan dan Pendinginan,
- Teknologi Teh, Kopi dan Coklat,
- Teknologi Minyak Atsiri, Rempah dan Obat,
- Teknologi Fermentasi,
- Boiteknologi Pangan,
- Mikrobiologi Pangan dan Enzimonologi.
- Manajemen Pangan Aman dan Halal,
dan masih banyak mata kuliah menarik lainnya.

KARIR

Setelah lulus food tech, ada dua jalur karir di pabrik, yakni Quality Assurance (bagian pengendalian mutu) dan Product Development (bagian Pengembangan Produk).

Pengendalian Mutu

Kebanyakan sarjana yang baru lulus diterima bekerja di bagian Pengendalian Mutu. Mereka bertugas memastikan apakah proses pengolahan makanan di pabrik berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.
Di pabrik yang membuat es krim misalnya, seorang staf pengawas mutu harus memastikan bahwa es krim yang dihasilkan telah melewati proses yang higienis dan dengan kandungan bahan makanan yang tidak merugikan. Pengawasan juga dilakukan sampai di tahap pengepakan, bahkan pengiriman produk.
Bagian ini biasanya membutuhkan cukup banyak lulusan Teknologi Pangan. Untuk satu jenis produk kadang-kadang diperlukan 15 orang pengawas mutu. Jadi kebanyakan sarjana jurusan ini memang mengawali karirnya di bagian ini.

Pengembangan Produk

Bidang lainnya adalah Product Development. Ini bagian yang lebih elit. Tidak mudah langsung diterima di bagian ini. Disamping perlu pengetahuan mumpuni, bidang ini menyangkut rahasia resep produk. Perusahaan selalu berhati-hati memilih orang yang tepat untuk bagian ini.
Karena posisinya yang sangat strategis, mereka sering berhubungan dengan para pemimpin puncak di perusahaan. Dengan demikian mereka berpeluang mendapat kenaikan tingkat lebih cepat dibandingkan para staf di QA. Posisi tertinggi yang bisa diraih staf di bagian ini adalah Chief Technical Officer, atau Direktur Teknik.
Karena tidak mudah masuk ke bagian ini dan posisinya yang penting, standard gajinya tentu lebih  tinggi. Jumlah sarjana yang diterima di bagian ini biasanya lebih sedikit. Misalnya untuk 1 jenis produk hanya diperlukan 2 staf Pengembangan Produk saja. Kalau sebuah perusahaan memproduksi 10 macam produk, maka jumlah staf di bagian ini paling banter 20 orang.

PROSPEK Jangka Panjang

Para sarjana Food Tech, terlebih mereka di bagian pengawasan mutu, jarang terlihat oleh para pimpinan perusahaan. Yang sering bertemu dan berhubungan langsung dengan para pucuk pimpinan adalah staf di bagian Sales atau Marketing atau Finance. Orang Food Tech lebih sering  ‘behind the scene’ alias berada di belakang layar. Ini tentu berkaitan dengan peluang karir untuk mendapatkan posisi lebih tinggi.
Menurut Indradi Sadhani, sarjana Food Technology lulusan Royal Melbourne Institute of Technology, Australia, ada kecenderungan bahwa pekerjaan yang ditangani para sarjana Food Tech ini sering kali bisa digantikan oleh lulusan Teknik Kimia. Memang, ini tergantung pada jenis produk dan kebijakan pimpinan. Baru belakangan ini di Australia lulusan Food Tech mulai banyak dicari karena ada beberapa hal, terutama yang menyangkut nutrisi, yang kurang dipahami lulusan Teknik Kimia.
Masih menurut Dadi, nama panggilan Indradi, belakangan sarjana Food Tech banyak berperan sebagai Project Manager, bukan mengembangkan produk. Alasannya, di banyak pabrik makanan,  kebutuhan bahan makanan tertentu dipesan dari perusahaan lain dalam bentuk jadi.
Misalnya di pabrik udang tepung dalam kemasan, dari pada membuat tepung sendiri, pabrik memesan tepung dari perusahaan lain yang lebih handal soal ini karena memang spesialisasinya hanya membuat tepung. Jadi para sarjana Food Tech lebih banyak berperan dalam proses pemesanan seperti misalnya menentukan jenis bahan yang diperlukan, komposisi di dalamnya, kapan mesti diterima, dalam kondisi seperti apa, dan lain-lain.

Jurusan ini untuk siapa?

Kesimpulannya, bagi beberapa kalangan, jurusan ini tidak mencetak tenaga kerja yang cepat menuju pucuk pimpinan. Dengan kata lain, jurusan ini kurang cocok bagi mereka yang berambisi pada kedudukan di perusahaan.
Namun bagi mereka yang punya hasrat (passion) kuat di bidang makanan, kesehatan, sains, dan biologi, dan ingin hidup dan bekerja dengan tenang dan “adem ayem”, tidak suka stress karena dikejar-kejar target, bidang ini bisa jadi pilihan yang menarik.  Sekalipun demikian bukan lantas berarti ini pekerjaan yang mudah. Tanggung jawab profesinya tetap saja besa

TEKNIK KIMIA S1, UNNES

Legalitas
Izin penyelenggaran  dikti No. 266/E/O/2012 pada tanggal 3 Agustus 2012

Deskripsi Singkat
Program studi Teknik Kimia S1 lahir pada tanggal 3 Agustus 2012 sesuai dengan SK penyelenggaraan dari dikti No. 266/E/O/2012. Program Studi ini mulai menerima Mahasiswa Baru Teknik Kimia S1 pada Tahun Ajaran 2012/2013. Konsentrasi Prodi Teknik Kimia S1 adalah “Teknologi Pengolahan Sumber Alam Terbarukan Indonesia menjadi Bahan kimia bernilai tinggi (fine chemical)”. Lahirnya Program Studi Teknik Kimia S1 diawali dengan adanya Program Studi Teknik Kimia D3 yang sudah ada sejak tahun 2007.
Program Studi Teknik Kimia merupakan salah satu cabang rekayasa yang menitikberatkan pada proses dan operasi teknik kimia. Keunggulan dari Program Studi Teknik Kimia adalah memiliki kemampuan terhadap penguasaan dan pemanfaatan bahan alam terbarukan Indonesia seperti mengolah, memproses, mengoperasikan, merancang, memilih dan menerapkan teknologi Kimia. Bahan baku yang akan diolah adalah bahan alam terbarukan (BAT) Indonesia, seperti BAT berbasis minyak atsiri (rempah-rempah dan empon-empon), BAT berbasis lemak dan minyak, BAT berbasis protein, selulosa dan serat, BAT berbasis laut (rumput laut), gula tebu dan gula merah, dan BAT berbasis getah-getahan.

Keunggulan
Prestasi yang pernah diraih oleh mahasiswa Program Studi Teknik Kimia sebagai Juara II Mahasiswa Berprestasi 2011 Tingkat Fakultas diraih oleh Eko Setiawan(Mahasiswa Teknik Kimia D3 angkatan 2009) dan Juara III Putra Kampus 2012 oleh Radityo Pungki (Mahasiswa Teknik Kimia D3 angkatan 2011). Prestasi lain yang dicapai banyaknya proposal Program Kreativitas Mahasiswa didanai Dikti dan beasiswa bidikmisi, BBM dan PPA.
Fasilitas penunjang
Research. Kegiatan penelitian baik mahasiswa maupun dosen dilakukan di Laboratorium Teknik Kimia. Laboratorium Teknik Kimia terdapat alat atau instrumen yang menunjang kegiatan penelitian. Penelitian yang dikembangkan khususnya pengolahan bahan alam terbarukan.
Keunikan (daya beda)
Program Studi Teknik Kimia S1 UNNES memiliki konsentrasi Pengolahan Bahan Alam Terbarukan (BAT) yang berbeda dengan Program Studi Teknik Kimia yang ada di Perguruan Tinggi Indonesia. Mahasiswa selain dibekali keahlian di bidang Teknik Kimia juga diberikan pengetahuan Pengolahan Bahan Alam Terbarukan.
Peluang mmengembangkan diri
Program Studi Teknik Kimia mengembangkan beberapa kegiatan antara lain:
a. Memacu dosen dan mahasiswa Program Studi Teknik Kimia untuk lebih meningkatkan kemampuan, kualitas, dan daya saing dosen dalam melaksanakan penelitian di tingkat nasional dan internasional;
b. Memacu dosen dan mahasiswa program studi Teknik untuk lebih meningkatkan kemampuan, kualitas, dan daya saing dosen dalam melaksanakan pengabdian/layanan kepada masyarakat di tingkat nasional dan internasional;

KOMPETENSI LULUSAN
Lulusan Program Studi Teknik Kimia diharapkan memiliki keahlian sebagai berikut.
a. Lulusan yang siap pakai dalam bidang ilmu teknik kimia.
b. Lulusan yang mempunyai daya kreativitas dan inovatif yang tinggi dalam berkarya.
c. Lulusan yang mempunyai jiwa wirausaha, mampu menciptakan lapangan kerjaan secara mandiri.
d. Lulusan yang mampu membuat rancang bangun pabrik kimia dalam menghadapi globalisasi.
e. L ulusan yang dapat menjaga lingkungan untuk keberlangsungan masyarakat banyak.
Alumni
Aalumni prodi ini bekerja di industri,  meliputi PT Astra Daihatsu, PT. Sido mncul, PT. Kino, PT. Dua Kelinci, PT. Indo Plastik, dan Bank BRI.


 Alamat
Gedung E1 Lantai 2 Fakultas Teknik, Kampus  Unnes Sekaran Gunungpati, Semarang 50229
Telp. (024)8508101 ext 114, Website: http://tekkim.unnes.ac.id/

Kamis, 24 April 2014

RUMUS KIMIA


A
B B
Ammonia Amonia
NH3 NH3
Carbon dioxide Karbon dioksida
CO2 CO2
Carbon monoxide Karbon monoksida
CO CO
Chlorine Klorin
Cl2 Cl2
Hydrogen chloride Hidrogen klorida
HCl HCl
Hydrogen Hidrogen
H2 H2
Hydrogen sulfide Hidrogen sulfida
H2S H2S
Methane Metana
CH4 CH4
Nitrogen Nitrogen
N2 N2
Nitrogen (II) oxide Nitrogen (II) oksida
NO NO
Oxygen Oksigen
O2 O2
Sulfur dioxide Belerang dioksida
SO2 SO2
Aluminun oxide Aluminun oksida
Al2O3 Al2O3
Barium Sulfate Barium Sulfat
BaSO4 BaSO4
Calcium hydroxide Kalsium hidroksida
Ca(OH)2 Ca (OH) 2
Copper (II) sulfate Tembaga (II) sulfat
CuSO4 CuSO4
Ethane Etana
C2H6 C2H6
Ethene (ethylene) Etena (etilena)               C2H4 C2H4    
C2H4 C2H4
Ethyne (acetylene) Etuna (asetilena)
C2H2 C2H2
Hydrogen fluoride Hidrogen fluoride
HF HF
Hydrogen iodide Hidrogen iodida
HI HI
Iodine chloride Yodium klorida
ICl ICL
Lead (II) oxide Lead (II) oksida
PbO PbO
Magnesium oxide Magnesium oksida
MgO MgO
Nitrogen (II) oxide Nitrogen (II) oksida
NO NO
Nitrogen (IV) oxide Nitrogen (IV) oksida
NO2 NO2
Potassium chloride Kalium klorida
KCl KCl
Sodium chloride Natrium klorida
NaCl NaCl
Sulfur dioxide Belerang dioksida
SO2 SO2
Water Air
H2O H2O
Aluminum Bromide Aluminium Bromida
AlBr3 AlBr3
Aluminum Carbonate Aluminium Karbonat
Al2(CO3)3 Al2 (CO3) 3
Aluminum Chloride Aluminium Klorida
AlCl3 AlCl3
Aluminum Chromate Aluminium Kromat
Al2(CrO4)3 Al2 (CrO4) 3
Aluminum Hydroxide Aluminium Hidroksida
Al(OH)3 Al (OH) 3
Aluminum Iodide Aluminium iodida
AlI3 AlI3
Aluminum Nitrate Aluminium Nitrat
Al(NO3)3 Al (NO3) 3
Aluminum Phosphate Aluminium Fosfat
AlPO4 AlPO4
Aluminum Sulfate Aluminium Sulfat
Al2(SO4)3 Al2 (SO4) 3
Aluminum Sulfide Aluminium Sulfida
Al2S3 Al2S3
Ammonium Acetate Amonium Asetat
NH4C2H3O2 NH4C2H3O2
Ammonium Bromide Amonium Bromida
NH4Br NH4Br
Ammonium Carbonate Amonium Karbonat
(NH4)2CO3 (NH4) 2CO3
Ammonium Chloride Amonium Klorida
NH4Cl NH4Cl
Ammonium Chromate Amonium Kromat
(NH4)2CrO4 (NH4) 2CrO4
Ammonium Hydroxide Amonium Hidroksida
NH4OH NH4OH
Ammonium Iodide Amonium iodida
NH4I NH4I
Ammonium Nitrate Amonium Nitrat
NH4NO3 NH4NO3
Ammonium Phosphate Amonium Fosfat
(NH4)3PO4 (NH4) 3PO4
Ammonium Sulfate Amonium Sulfat
(NH4)2SO4 (NH4) 2SO4
Ammonium Sulfide Amonium Sulfida
(NH4)2S (NH4) 2S
Barium Acetate Barium Asetat
Ba(C2H3O2)2 Ba (C2H3O2) 2
Barium Bromide Barium Bromida
BaBr2 BaBr2
Barium Carbonate Barium Karbonat
BaCO3 BaCO3
Barium Chloride Barium Klorida
BaCl2 BaCl2
Barium Chromate Barium Kromat
BaCrO4 BaCrO4
Barium Hydroxide Barium Hidroksida
Ba(OH)2 Ba (OH) 2
Barium Iodide Barium iodida
BaI2 BaI2
Barium Nitrate Barium Nitrat
Ba(NO3)2 Ba (NO3) 2
Barium Phosphate Barium Fosfat
Ba3(PO4)2 Ba3 (PO4) 2
Barium Sulfate Barium Sulfat
BaSO4 BaSO4
Barium Sulfide Barium Sulfida
BaS Bas
Calcium Acetate Kalsium Asetat
Ca(C2H3O2)2 Ca (C2H3O2) 2
Calcium Bromide Kalsium Bromida
CaBr2 CaBr2
Calcium Carbonate Kalsium Karbonat
CaCO3 CaCO3
Calcium Chloride Kalsium Klorida
CaCl2 CaCl2
Calcium Chromate Kalsium Kromat
CaCrO4 CaCrO4
Calcium Hydroxide Kalsium Hidroksida
Ca(OH)2 Ca (OH) 2
Calcium Iodide Kalsium iodida
CaI2 CaI2
Calcium Nitrate Kalsium Nitrat
Ca(NO3)2 Ca (NO3) 2
Calcium Phosphate Kalsium Fosfat
Ca3(PO4)2 Ca3 (PO4) 2
Calcium Sulfate Kalsium Sulfat
CaSO4 CaSO4
Calcium Sulfide Kalsium Sulfida
CaS Cas
Copper (II) Acetate Tembaga (II) Asetat
Cu(C2H3O2)2 Cu (C2H3O2) 2
Copper (II) Bromide Tembaga (II) Bromida
CuBr2 CuBr2
Copper (II) Carbonate Tembaga (II) Karbonat
CuCO3 CuCO3
Copper (II) Chloride Tembaga (II) Klorida
CuCl2 CuCl2
Copper (II) Chromate Tembaga (II) Kromat
CuCrO4 CuCrO4
Copper (II) Hydroxide Tembaga (II) Hidroksida
Cu(OH)2 Cu (OH) 2
Copper (II) Iodide Tembaga (II) iodida
CuI2 CuI2
Copper (II) Nitrate Tembaga (II) Nitrat
Cu(NO3)2 Cu (NO3) 2
Copper (II) Phosphate Tembaga (II) Fosfat
Cu3(PO4)2 Cu3 (PO4) 2
Copper (II) Sulfate Tembaga (II) Sulfat
CuSO4 CuSO4
Copper (II) Sulfide Tembaga (II) Sulfida
CuS Cus
Iron (II) Acetate Besi (II) Asetat
Fe(C2H3O2)2 Fe (C2H3O2) 2
Iron (II) Bromide Besi (II) Bromida
FeBr2 FeBr2
Iron (II) Carbonate Besi (II) Karbonat
FeCO3 FeCO3
Iron (II) Chloride Besi (II) Klorida
FeCl2 FeCl2
Iron (II) Chromate Besi (II) Kromat
FeCrO4 FeCrO4
Iron (II) Hydroxide Besi (II) Hidroksida
Fe(OH)2 Fe (OH) 2
Iron (II) Iodide Besi (II) iodida
FeI2 FeI2
Iron (II) NItrate Besi (II) Nitrat
Fe(NO3)2 Fe (NO3) 2
Iron (II) Phosphate Besi (II) Fosfat
Fe3(PO4)2 Fe3 (PO4) 2
Iron (II) Sulfate Besi (II) Sulfat
FeSO4 FeSO4
Iron (II) Sulfide Besi (II) Sulfida
FeS FeS
Iron (III) Acetate Besi (III) Asetat
Fe(C2H3O2)3 Fe (C2H3O2) 3
Iron (III) Bromide Besi (III) Bromida
FeBr3 FeBr3
Iron (III) Carbonate Besi (III) Karbonat
Fe2(CO3)3 Fe2 (CO3) 3
Iron (III) Chloride Besi (III) Klorida
FeCl3 FeCl3
Iron (III) Chromate Besi (III) Kromat
Fe2(CrO4)3 Fe2 (CrO4) 3
Iron (III) Hydroxide Besi (III) Hidroksida
Fe(OH)3 Fe (OH) 3
Iron (III) Iodide Besi (III) iodida
FeI3 FeI3
Iron (III) Nitate Besi (III) Nitate
Fe(NO3)3 Fe (NO3) 3
Iron (III) Phosphate Besi (III) Fosfat
FePO4 FePO4
Iron (III) Sulfate Besi (III) Sulfat
Fe2(SO4)3 Fe2 (SO4) 3
Iron (III) Sulfide Besi (III) Sulfida
Fe2S3 Fe2S3
Magnesium Acetate Magnesium Asetat
Mg(C2H3O2)2 Mg (C2H3O2) 2
Magnesium Bromide Magnesium Bromida
MgBr2 MgBr2
Magnesium Carbonate Magnesium Karbonat
MgCO3 MgCO3
Magnesium Chloride Magnesium Klorida
MgCl2 MgCl2
Magnesium Chromate Magnesium Kromat
MgCrO4 MgCrO4
Magnesium Hydroxide Magnesium Hidroksida
Mg(OH)2 Mg (OH) 2
Magnesium Iodide Magnesium iodida
MgI2 MgI2
Magnesium Nitrate Nitrat Magnesium
Mg(NO3)2 Mg (NO3) 2
Magnesium Phosphate Magnesium Fosfat
Mg3(PO4)2 Mg3 (PO4) 2
Magnesium Sulfate Magnesium Sulfat
MgSO4 MgSO4
Magnesium Sulfide Magnesium Sulfida
MgS MGS
Mercury (I) Acetate Mercury (I) Asetat
HgC2H3O2 HgC2H3O2
Mercury (I) Bromide Mercury (I) Bromida
HgBr HgBr
Mercury (I) Carbonate Mercury (I) Karbonat
Hg2CO3 Hg2CO3
Merucry (I) Chloride Merucry (I) Klorida
HgCl HgCl
Mercury (I) Chromate Mercury (I) Kromat
Hg2CrO4 Hg2CrO4
Merucry (I) Hydroxide Merucry (I) Hidroksida
HgOH HgOH
Mercury (I) Iodide Mercury (I) iodida
HgI HGI
Mercury (I) Nitrate Mercury (I) Nitrat
HgNO3 HgNO3
Mercury (I) Phosphate Mercury (I) Fosfat
Hg3PO4 Hg3PO4
Mercury (I) Sulfate Mercury (I) Sulfat
Hg2SO4 Hg2SO4
Mercury (I) Sulfide Mercury (I) Sulfida
Hg2S Hg2S
Merucry (II) Acetate Merucry (II) Asetat
Hg(C2H3O2)2 Hg (C2H3O2) 2
Mercury (II) Bromide Mercury (II) Bromida
HgBr2 HgBr2
Mercury (II) Carbonate Mercury (II) Karbonat
HgCO3 HgCO3
Merucry (II) Chloride Merucry (II) Klorida
HgCl2 HgCl2
Mercury (II) Chromate Mercury (II) Kromat
HgCrO4 HgCrO4
Mercury (II) Hydroxide Mercury (II) Hidroksida
Hg(OH)2 Hg (OH) 2
Mercury (II) Iodide Mercury (II) iodida
HgI2 HgI2
Mercury (II) Nitrate Mercury (II) Nitrat
Hg(NO3)2 Hg (NO3) 2
Mercury (II) Phosphate Mercury (II) Fosfat
Hg3(PO4)2 Hg3 (PO4) 2
Merucry (II) Sulfate Merucry (II) Sulfat
HgSO4 HgSO4
Mercury (II) Sulfide Mercury (II) Sulfida
HgS HgS
Potassium Acetate Kalium Asetat
KC2H3O2 KC2H3O2
Potassium Bromide Kalium Bromida
KBr KBr
Potassium Carbonate Kalium Karbonat
K2CO3 K2CO3
Potassium Chloride Kalium Klorida
KCl KCl
Potassium Chromate Kalium Kromat
K2CrO4 K2CrO4
Potassium Hydroxide Kalium Hidroksida
KOH KOH
Potassium Iodide Kalium iodida
KI KI
Potassium Nitrate Kalium Nitrat
KNO3 KNO3
Potassium Phosphate Kalium Fosfat
K3PO4 K3PO4
Potassium Sulfate Kalium sulfat
K2SO4 K2SO4
Potassium Sulfide Kalium Sulfida
K2S K2S
Silver Acetate Silver Asetat
AgC2H3O2 AgC2H3O2
Silver Bromide Perak Bromida
AgBr AgBr
Silver Carbonate Silver Karbonat
Ag2CO3 Ag2CO3
Silver Chloride Perak Klorida
AgCl AgCl
Silver Chromate Perak Kromat
Ag2CrO4 Ag2CrO4
Silver Hydroxide Silver Hidroksida
AgOH AgOH
Silver Iodide Perak iodida
AgI AgI
Silver Nitrate Silver Nitrat
AgNO3 AgNO3
Silver Phosphate Silver Fosfat
Ag3PO4 Ag3PO4
Silver Sulfate Silver Sulfat
Ag2SO4 Ag2SO4
Silver Sulfide Silver Sulfida
Ag2S Ag2S
Sodium Acetate Natrium Asetat
NaC2H3O2 NaC2H3O2
Sodium Bromide Natrium Bromida
NaBr NaBr
Sodium Carbonate Sodium Carbonate
Na2CO3 Na2CO3
Sodium Chloride Natrium Klorida
NaCl NaCl
Sodium Chromate Natrium Kromat
Na2CrO4 Na2CrO4
Sodium Hydroxide Sodium Hidroksida
NaOH NaOH
Sodium Iodide Natrium iodida
NaI NaI
Sodium Nitrate Sodium Nitrat
NaNO3 NaNO3
Sodium Phosphate Natrium Fosfat
Na3PO4 Na3PO4
Sodium Sulfate Sodium Sulfat
Na2SO4 Na2SO4
Sodium Sulfide Natrium Sulfida
Na2S Na2S
Zinc Acetate Seng Asetat
Zn(C2H3O2)2 Zn (C2H3O2) 2
Zinc Bromide Seng Bromida
ZnBr2 ZnBr2
Zinc Carbonate Zinc Karbonat
ZnCO3 ZnCO3
Zinc Chloride Seng Klorida
ZnCl2 ZnCl2
Zinc Chromate Seng Kromat
ZnCrO4 ZnCrO4
Zinc Hydroxide Seng Hidroksida
Zn(OH)2 Zn (OH) 2
Zinc Iodide Seng iodida
ZnI2 ZnI2
Zinc Nitrate Nitrat Seng
Zn(NO3)2 Zn (NO3) 2
Zinc Phosphate Seng Fosfat
Zn2(PO4)2 Zn2 (PO4) 2
Zinc Sulfate Seng Sulfat
ZnSO4 ZnSO4
Zince Sulfide Zince Sulfida
ZnS ZnS
Lead (II) Acetate Lead (II) Asetat
Pb(C2H3O2)2 Pb (C2H3O2) 2
Lead (II) Bromide Lead (II) Bromida
PbBr2 PbBr2
Lead (II) Carbonate Lead (II) Karbonat
PbCO3 PbCO3
Lead (II) Chloride Lead (II) Klorida
PbCl2 PbCl2
Lead (II) Chromate Lead (II) Kromat
PbCrO4 PbCrO4
Lead (II) Hydroxide Lead (II) Hidroksida
Pb(OH)2 Pb (OH) 2
Lead (II) Iodide Lead (II) iodida
PbI2 PbI2
Lead (II) Nitrate Lead (II) Nitrat
Pb(NO3)2 Pb (NO3) 2
Lead (II) Phosphate Lead (II) Fosfat
Pb3(PO4)2 Pb3 (PO4) 2
Lead (II) Sulfate Lead (II) Sulfat
PbSO4 PbSO4
Lead (II) Sulfide Lead (II) Sulfida
PbS PbS
Lead (IV) Acetate Timbal (IV) Asetat
Pb(C2H3O2)4 Pb (C2H3O2) 4
Lead (IV) Bromide Timbal (IV) Bromida
PbBr4 PbBr4
Lead (IV) Chromate Timbal (IV) Kromat
Pb(CO3)2 Pb (CO3) 2
Lead (IV) Hydroxide Timbal (IV) Hidroksida
Pb(OH)4 Pb (OH) 4
Lead (IV) Iodide Timbal (IV) iodida
PbI4 PbI4
Lead (IV) Nitrate Timbal (IV) Nitrat
Pb(NO3)4 Pb (NO3) 4
Lead (IV) Phosphate Timbal (IV) Fosfat
Pb3(PO4)4 Pb3 (PO4) 4
Lead (IV) Sulfate Timbal (IV) sulfat
Pb(SO4)2 Pb (SO4) 2
Lead (IV) Sulfide Timbal (IV) Sulfida
PbS2 PbS2
Aluminum Acetate Aluminium Asetat
Al(C2H3O2)3 Al (C2H3O2) 3


Sodium Nitrite 
Natrium Nitrit                                NaNO2    NaNO2                                             

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates